Suatu malam Natal, anak saya bertanya kepada saya, “Ayah, mengapa semakin
saya besar, hari natal semakin tidak terasa istimewanya, seperti ketika saya
kecil?”
Perkataannya membawa saya kepada kenangan masa kecil puluhan tahun lalu,
kepada kenangan2 natal yang saya lewati.
Orang tua saya bukan kristiani, tetapi dari ayah saya , saya mengenal lagu2
natal dan sepenggal kisah tentang natal. Setiap dekat dengan natal, setiap
tahun, ia rajin memutar lagu2 natal kesayangannya. Dari pemutar musiknya
penyanyi2 jadoel seperti Jim Reeves, Andy Williams , Julie Andrews, dll ,
melantunkan lagu2 natal klasik, tentang malam yang sunyi, tentang natal yang
putih, tentang hadiah2 dibawah perapian.
Saya dan saudara2 saya tidak dibesarkan dengan tradisi orangtua memberikan
hadiah natal. Atau tradisi kumpul dan makan bersama di malam natal. Sekolah
Katolik yang saya masuki, memberikan gambaran lebih jelas tentang tradisi
ini.
Saya membesarkan anak saya dengan tradisi yang lebih komplit, ke gereja
bersama, dan hadiah2 natal ketika dia bangun pagi di hari natal.
Cerita tentang santa clause, dan hadiah2 yang dia terima bisa dia yakini
berasal dari santa clause, ketika dia masih kecil.
Dan ketika dia besar, pertanyaannya tetap sama, dan saya percaya, pertanyaan
itu pertanyaan yang sama dengan banyak orang, mengapa makin lama natal makin
tidak istimewa?
Ketika ditanya kenangan natal, saya juga selalu kembali ke masa kecil,
berdiri di dalam mobil sedan jadoel ayah saya, yang dashboardnya saya ingat
masih dari kayu, berdesak-desakan dengan saudara saya yang lain, menempuh
dua jam perjalanan ke Bandung dalam hujan gerimis, sambil mendengarkan lagu2
natal mengalun dari tape mobilnya.
Di Bandung , segelas es krim dengan hiasan payung kecil dari kertas ,
menjadi istimewa buat kami anak kampung. Belum ada mall2 besar disana, jalan
braga adalah tempat belanja yang istimewa saat itu.
Kenangan natal selalu membawa saya kembali ke rumah orang tua, dengan udara
dingin puncak, hujan dan segelas susu coklat panas. Atau ke gereja sekolah
saya yang kecil, tapi berada di bukit, mirip dengan gambar2 gereja di kartu
natal, hanya minus salju.
Satu yang paling mirip suasana natal di luar negeri menurut saya adalah
hotel puncak pass, ketika saya menyaksikan kakak saya yang masih SD, bersama
teman2 sekolahnya menyanyikan lagu2 natal dalam bahasa inggris dan belanda,
di tangga lobby hotelnya yang dindingnya masih terbuat dari log2 kayu,
beserta udara dinginnya yang menusuk tulang.
Bernyanyi untuk tamu2 dari Jakarta dan orang2 asing yang menginap, sambil
mereka menikmati hidangan steak yg saat itu rasanya makanan istimewa sekali.
Atau kembali ke masa SMA di sekolah, bersama teman2 sekolah mendekorasi
kelas dan menjuarai lomba paduan suara lagu natal.
Kemanakah natal yang sekarang?
Kotbah para imam , masih sama berulang tahun ke tahun, tentang bayi dalam
palungan. Yang ceritanya ketika kita masih kecil begitu memikat, tentang
bala tentara malaikat bernyanyi Gloria in excelsis Deo.
Josh Groban dan Michael Buble, tidak kalah indah melantunkan lagu syahdu
natal, bahkan Mariah Carey bisa mengajak berjingkrak dengan lagu natalnya
yang berirama riang. Bahkan Wham kelompok musik terkenal jaman saya, masih
memikat dengan lagu natalnya yang tidak bercerita tantang natal, tapi
tentang kehilangan pacar di saat natal.
Para ahli filsafat bercerita tentang makna natal di koran2, dengan bahasa
tingkat tinggi, yang menurut saya hanya menonjolkan intelektualitas mereka,
lengkap dengan kosa kata bahasa mereka yang mungkin setengah bahasa malaikat
karena untuk mengerti kata2 nya harus membuka kamus besar bahasa Indonesia
bahkan lebih. Ketika sulit dimengerti bahasanya, bagaimana orang bisa
menangkap maksud tulisannya? Demikian pandangan saya yang bukan ahli sastra.
Mall-mall berhias indah sekali, pohon natal dan kelipan lampunya begitu
menarik. Diorama natal dibuat, bisa ada salju turun, snowman, santa dengan
kereta saljunya, dan anak2 yang menangis dalam pelukan foto bersama santa
karena merasa takut dengan lelaki berjanggut lebat berbaju merah yang
dipopulerkan oleh coca-cola.
Tetapi semua itu tidak dapat mengisi hati kita, dan kita tetap bertanya
dimana Natal? Rangkuman singkat dari pertanyaan anak saya , mengapa Natal
tidak istimewa ketika kita semakin besar?
Dan dari setiap kilas balik yang saya punyai , saya melihat mengapa ada
pengalaman hidup kita tentang natal yang masuk dan membekas kuat di dalam
hati dan ingatan.
Semua natal yang membekas ternyata adalah semua natal yang dilalui ketika
saya tidak sendiri, semua membekas ketika saya ada bersama keluarga, dalam
kehangatan kasih mereka, dalam cinta dan kebersamaan teman2.
Hadiah2 natal masa kecil adalah sebuah bentuk perhatian, bukan hadiahnya
yang penting, tetapi kehangatan pemberinya. Ketika kita merasa berharga,
karena mendapat perhatian.
Hadiah yang membekas adalah bukan es krim dengan payung cantiknya yang masih
bisa saya nikmati sampai sekarang di kota bandung, dan sudah bukan makanan
istimewa lagi, tetapi adalah tawa riang keluarga ketika memakannya
bersama-sama.
Bukan segelas susu coklat yang memberikan rasa hangat di udara kampung kecil
di puncak, tetapi kehangatan karena ada bersama keluarga.
Menjuarai lomba paduan suara di sma bukan hadiah natal yang sesungguhnya,
tetapi kebersamaan teman2 , itulah esensinya.
Bukan hotel berdinding balok2 kayu yang menarik disaat Natal, tetapi
mendengarkan kakak saya menyanyi, itu yang sebenarnya membekas, sehingga
sampai sekarang, walaupun tidak mengerti arti kata-kata dalam lagunya,
sepenggal bait lagu dalam bahasa belanda yang dinyanyikannya masih saya
ingat.
Mungkin disitulah esensi Natal, kehangatan dalam kebersamaan.
Karena bayi kecil dalam palungan pun ketika datang, memanggil banyak orang
dari kesepiannya. Memanggil gembala yang kedinginan di padang, memanggil
dari jauh orang2 majus, untuk berkumpul dan menerima kehangatanNya.
Mungkin kita adalah gembala2 yang dingin dan sepi di padang, mungkin kita
adalah orang2 majus yang kaya yang dipanggil untuk berkumpul bersama.
Emas, Mur dan Kemenyan, adalah hadiah indah dan pantas bagi bayi kecil di
palungan. Tetapi ketika bayi kecil itu menjadi besar, Dia memberikan diriNya
sebagai tebusan bagi banyak orang.
Dan mungkin kini saya sudah menemukan jawaban bagi anak saya, kenapa semakin
besar kita merasa natal tidak istimewa.
Ketika kita masih kecil, kita menerima banyak hadiah dan perhatian dari
orang2 disekitar kita. Sama ketika bayi dalam palungan menerima hadiah dari
orang2 majus.
Ketika sudah besar, sudah saatnya kita yang harus memberikan perhatian
kepada orang2 lain supaya ruang2 kosong untuk menyimpan kenangan natal bisa
diisi.
Seperti bayi kecil itu , saat besar memberikan dirinya bagi hidup orang
lain.
Kini saya merasa, ruang2 hati saya mulai diisi kembali kenangan2 natal,
tentang Abi, tentang Hendra, tentang anak2 panti, diisi karena kemurahan
hati teman2 yang mau bersama berbagi untuk kita melaksanakan project santa.
Dan kini bersama rekan2 team project santa , kita akan berkumpul untuk
bekerjasama kembali, menyalurkan kasih dan perhatian rekan2 gadtorade untuk
mereka yang terpinggirkan dan terlupakan.
Semoga kita semua menemukan kembali natal kita.
Mewakili team project santa dan admins gadtorade saya mengucapkan :
Selamat Natal , damai di bumi damai di hati.
Salam,
Lucky Sebastian
Comments
bagus pak tulisannya
bagus pak tulisannya ,,,
sayapun yang tidak pernah merasakan indahnya natal,,,
dengan membaca tulisan Bapak,, bulu punduk saya merinding ,, heee
indah memang sebuah kebersamaan itu ^_^
Post new comment