Nulis dikit ah,
Kira2 3 minggu lalu, saya kedatangan teman lama, yg memperkenalkan saya kepada seorang lulusan unpar yg sudah cukup lama, yang ternyata seorang pendaki gunung.
Pendaki gunung tersebut benama Sieling, seorang wanita yg tampilannya bersahaja, postur tubuh agak kurus, tetapi kelihatannya lentur dan kuat.
Maksud teman saya memperkenalkan Sieling, ternyata untuk memberikan masukan mengenai teknologi gps dan komunikasi, yg mungkin bisa saya bagikan, untuk membantu pendakian ke Himalaya.
(Denger namanya aja serasa masuk ke kulkas:-)
Sieling ternyata pernah mengunjungi juga himalaya, bersama bbrp grup yg bergabung dalam mahitala unpar, himpunan pencinta alam yg biasa ada di tiap2 kampus.
Kisahnya bisa di googling di web, klo ngga salah masukkan kata: sieling
himalaya. Atau lihat diblog mahitala unpar diatas.
Tanggal 2 oktober ini, ia bersama rekannya akan mengunjungi lagi himalaya, kalau tidak salah untuk mendaki lebih tinggi ke punca laboche east di ketinggian 6000 meter lebih.
Hmm setinggi apa sih 6000 meter? Bandung kira2 di ketinggian 750m, jadi ya lumayan jauh lebih tinggi, apalagi dari jkt atau surabaya.
Memang Lobuche east bukan puncak tertinggi himalaya, yg mencapai diatas 8000 meter, kalau ngga salah nama puncaknya yg kita kenal sebagai mount everest, dikenal dalam bahasa lokal sebagai co mo lungma atau co mo lo lungma.
(Saya mengenal istilah ini bukan dari pelajaran geografi, tapi dari buku kho ping hoo, krn dikisahkan pendekar maha sakti saja yg bisa bertarung di puncak sana :-) )
Mereka yang pernah mendaki gunung, kedinginan dan kelelahan, kemungkinan pernah bertanya ketika di tengah pendakian yg melahkan dan dingin: "sebenarnya apa yg saya cari?"
Pendaki2 pemula, ketika lelah, sering diisengin supaya memompa semangat, : "ayo, sudah dekat, di atas ada tukang bakso enak"
(Sakti nih tukang baso klo benar ada).
Setelah berhasil menaklukan puncak gunung, ada 2 kemungkinan, ngga mau naek lagi, atau malah jadi keranjingan.
Seorang teman kost saya dulu ketika kuliah, sudah sampai pada tahap akut tentang naik gunung, setiap ada kesempatan libur, yg dikejar adalah mendaki gunung, bahkan bela2 in ke rinjani yg cukup jauh.
Tekadnya, latihan untuk sampai ke Jaya Wijaya.
Lama tidak bertemu dia, tidak tahu apa dia pernah menyentuh puncak
jayawijaya, yg kabarnya sekarang sudah sedikit sekali esnya karena pemanasan global.
Back to gadget area, ternyata sieling diperkenalkan dengan saya, krn dia akan berangkat ke himalaya bersama rekannya dengan biaya sendiri, jadi dia mencari sponsor related dengan pendakiannya.
Teman saya memperkenalkan pada saya, karena katanya saya mungkin punya koneksi yg bisa membantu seperti kebutuhan pendakian dll.
Setahu saya sebagian perlatan pendakian di dapat sieling dari eiger,
perusahaan pembuat alat2 pendakian.
Yang terpikir pertama oleh saya adalah GPS.
Maka saya kontak garmin indonesia.
Saya sarankan mereka mempergunakan gps, dan download koordinat dan track tentang lokasi yg mereka kunjungi dari pendaki2 mancanegara yg kemungkinan pernah mengunjungi nya.
Dengan adanya track dan posisi waypoint, evaluasi mereka tentang rute pendakian akan semakin baik, dan semoga dihindarkan dari sesat.
Bayangkan saja, mereka memang membawa porter, tapi apa mereka akan menggantungkan hidup mereka atas petunjuk sang porter?
Pada pendakian yg lalu, tanpa gps, sieling pernah berkisah, acuannya adalah kompas dan gunung yg kasat mata.
Ketika tiba2 turun kabut/ angin kecang yg mengaburkan mata, dia kehilangan arah, dan tersesat.
Jika mereka punya gps, jalan malam sekalipun mereka masih mempunyai panduan yg lebih jelas daripada sang porter, setengah hidup mereka bergantung di gps
hehehhe.
Semoga Garmin Indonesia mau membantu mensponsori mereka, karena pendaki gunung sekelas mereka, masih tidak terlalu fasih dalam menggunakan gps.
Hal ini saya lihat ketika mereka minta briefing singkat tentang penggunaan GPS, banyak area2 yang ternyata belum dimengerti.
Seringkali jadi 'miris' juga, kita yang setiap hari bergelut di gadgets,
mungkin menguasai banyak kegunaan gadgets, tapi dipakai di kebutuhan sehari hari?
Semisal, kita tau kegunaan gps, bisa ini bisa itu, karena banyak referensi dari internet, tapi pada prakteknya langsung, misal untuk pendakian?
Boro-boro mendaki, paling tinggi juga gunung kasur :-)
Mungkin juga karena GPS dianggap barang mahal, pendaki kita tidak terlalu memprioritaskan barang ini, mungkin yang diajarkan turun temurun, adalah ilmu pendakian dengan pendekatan pengalaman alam.
Rasanya berbeda dengan pendaki2 luar, mereka fasih menggunakan alat ini, buktinya tidak sulit menemukan track dan wp pendakian mereka di himalaya.
semoga pendaki kita bica catch up supaya bisa memberikan kontribusi bagi komunitasnya.
Sebenarnya saya berharap, pendakian sieling ini bisa dibuatkan web khusus, online, yg bisa diupdate datanya online. Mungkin dengan begini bisa menggugah lebih banyak orang mengenal perjalanan pendakian menggunakan bantuan teknologi itu seperti apa.
Misal saya minta boss pipit bikinkan web khusus. Sieling mengirimkan secara berkala posisinya, dan di update, kita semua bisa cek, dan bahkan login ke google earth untuk dapat pandangan lebih real, dimana dia berada, sudah sampai mana, berhasilkah..
Asalnya saya mau titipkan tracking device yg bisa otomatis berkala
mengirimkan posisi koordinat, atau bisa otomatis membalas sms yg menanyakan posisinya.
Tapi kendalanya adalan, tracking device tersebut membutuhkan kartu GSM. Di Himalaya emang ada sinyal GSM? :-)
Berharap setidaknya bisa manaual, misal pakai telepon satelit, tapi tidak tahu, apakah seperti Byru, operator telp satelit kita, ada roaming di negara lain?
karena walaupun via satelit, tapi kan untuk area lain, satelit juga harus
hand over ke satelit lainnya?
Masalah lainnya juga adalah batere. Di kondisi pendakian seperti itu mau ngecharge dimana? Beberapa pendaki mulai memanfaatkan panel tenaga surya yang tertempel di backpack nya, tapi tidak semua orang punya ini :-) Ataupun charger manual tenaga engkol, ataupun tenaga langkah kaki. hmm sayang semua itu belum terlalu mudah ditemukan, dan rasanya masih terkendala limitasi lainnya.
Saya lihat dalam proposalnya, sieling membuat skedul, hari apa, harus sampai mana, hari apa, sudah harus dimana.
Saya mengandaikan, Ketika kita, orang yang biasa bolak balik jakarta bandung misalnya, lama2 kan hafal, berapa jam waktu harus ditempuh, lewat jalur mana.
Nah bagaimana membuat skedul, untuk daerah yang kita tidak pernah kunjungi?
Rasanya Himalaya bukan bisa menggunakan hitungan matematis, jarak sekian, kecepatan rata2 jalan sekian, akan tiba sekian waktu.
Banyak faktor x disana, ketinggian extreme, kendala ketebalan es, badai dll.
GPS bisa membantu untuk mereduksi hal ini, karena ketika kita go to ke
sebuah titik tujuan, gps akan memberikan hitungan yang terus menerus disesuaikan variable nya dengan kondisi lapangan, misal, kita bergerak cepat, maka akan ada perkiraan berapa lama tiba di tujuan, kalau kita terlalu lambat berjalan, bisa coba lebih cepat, kalau kita lebih cepat, bisa punya waktu untuk istirahat, buat dokumentasi dll.
Bagaimana kalau sieling membuat acuan skedul semirip mungkin dan seakurat mungkin untuk daerah yang tidak pernah dikunjunginya? semustinya kita lebih "siap" di era internet ini.
saya membayangkan, kalau jaman dulu org mau mendaki himalaya, mungkin kita hanya membaca sepenggal kisah perjalanan org lain, atau mendengar pengalamannya, membayangkannya dan tiba2 mendapat fakta yang jauh berbeda di lapangan.
Sekarang mungkin saja kita bisa mengumpulkan data lebih presisi.
Misalkan begini:
Saya mencari referensi dari database pendakian sebelumnya, dari pendaki luar yang direkam gps dan di distribusikan di internet.
saya memasukkan referensi itu ke google earth, dan melihat dari foto
satelitnya.
saya mencari masukan sebanyak2 nya mengenai daerah yang akan kita daki via blog para pendaki, wikipedia, dll, dari situ kita bisa mendapat acuan kira2 medan apa yang akan kita hadapi, apa kendala2 pendakian sebelumnya, bagaimana mengatasinya dll.
Data2 gps bekas pendaki lain saya masukkan dalam gps yang akan saya pakai.
Saya coba simulasikan, mengenai route yang harus dilewati, penampang kontur yang harus dilewati, dll.
Dari situ kita membuat sebuah skedul, disesuaikan dengan kondisi kemampuan fisik saya pada pengalaman pendakian sebelumnya, karena dalam data GPS kita juga selain melihat titik lokasi, ketinggian , juga bisa melihat kecepatan bergerak pendaki. Jadi kalau pendaki itu bergerak lebih cepat dari pengalaman saya, maka saya bisa membuat skedul saya lebih longgar dari dia.
Belum lagi data mengenai suhu, kelembaban di titik tersebut. Ini bisa
menjadi acuan mengenai pakaian yang harus dikenakan di sana tipe apa saja.
Karena katanya, mendaki di himalaya, pakaiannya harus disesuaikan dan diadaptasikan apa yang dipakai, sesuai ketinggian dan kondisi daerahnya.
Weh, kok rasanya jadi banyak teknisnya, pasti cape bacanya.
Menulis ini, membuat saya berpikir, tidak semua bisa kita kerjakan sendiri.
Alangkah baiknya orang seperti sieling, yang punya kemampuan fisik untuk mendaki seperti itu, didukung oleh komunitas lain, seperti orang2 yang mengusai IT, supaya persiapan jadi lebih matang dan baik.
orang2 yang mempunyai pengetahuan teknologi dan bisa memberikan sumbang saran penerapan teknologi sesuai kebutuhan di lapangan, jadi supaya teknologi terasa kegunaannya.
( mungkin analogi singkatnya, jangan handphone hsdpa hanya dipakai untuk telepon dan sms, itu sih pakai esia 199rebu juga bisa :-) )
Semoga komunitas kita, bisa memberikan saran2 bermanfaat bagi "dunia lain".
Apa yang ku cari di atas sana?
Ditengah kebekuan,
di tengah kelelahan?
di tengah senyap,
di tengah kerinduan atas sanak saudara
di tengah pergumulan di benak sepanjang jalan : " apa yang aku cari
sebenarnya?"
di atas sana,
ketika tujuan tercapai,
dan langit terasa sedikit lebih dekat,
aku melihat,
betapa diri ini begitu kecil,
ditengah kebesaran alam yang dahsyat,
ku lihat keagungan Nya...
kutemukan jawaban apa yang kucari,
supaya..
aku mengalahkan diriku sendiri,
dan aku bisa "melihat" kehadiran Nya
Selamat Berpuasa... semoga kita bisa mengalahkan diri kita sendiri.
(disadur dari sajak kho ping hoo)
salam,
9B
Comments
Post new comment