[Ayo Menulis] Kepercayaan: Mentalitas, Sikap, Budaya

Tulisan Pak Fadjar Rahardjo di Jakarta ini menjadi JUARA I dan berhak atas jam tangan Lanvin.

Kepercayaan: Mentalitas, Sikap, Budaya

Gadtoraders, sekedar sharing tentang kepercayaan diantara kita

Hari masih pagi, Minggu 29 January 2005 menjelang Tahun Baru Imlek dan Hijriyah. Saya bergegas mandi dan berangkat menuju tempat perjanjian kami, Rs. Harapan Kita di kawasan Slipi. Dalam hati saya bertanya-tanya adakah ATM B** di Rumah Sakit itu? Tapi saya mantapkan dalam hati bahwa pasti beliau sudah memperhitungkan keberadaan fasilitas tersebut untuk kelancaran
transaksi kami hari ini.

Tepat jam 11:00 tiba di tempat, saya lega karena walaupun ATM B** tidak tersedia tetapi ada ATM Ma***** disana. Saya menuju
CFC disamping ATM dan memesan segelas avocado juice untuk menemani selama menunggu kehadiran rekan saya tersebut setelah sebelumnya mengirimkan SMS untuk memberitahukan posisi dimana saya menunggu.

Sembari menunggu saya mencoba mereka-reka profil beliau. Sebagai member yang belum terlalu lama di Gadtorade sya belum banyak mengenal 'penjual' disana.
Mungkin dia lebih muda dari saya? Atau lebih tua? Mungkin gemuk dan berewokan? Ahh sepertinya yang lebih penting adalah bagaimana kondisi barang yang dijualnya. Muluskah sebagaimana disampaikan di milis? Atau akan ada banyak kekurangan disana-sini? Lalu saya mulai memikirkan skenario darurat bila ternyata barang yang dibawa tak sesuai deskripsi dan harapan saya.

Maklum, barang tersebut akan saya pakai sendiri dan saya beli dari mengorek tabungan, saya pasti akan mencari yang terbaik.

"OK pak, sy sdg otw harapan kita", begitu isi SMS dari orang yang saya tunggu-tunggu. Aduh, OTW nya dimana nih? Saya menyulut sebatang Marl***o Lig**ts lagi, ini batang yang kedua.

Belum habis lamunan dan sebatang rokok itu, ada telepon masuk. "Halo Pak..? Saya sudah sampai nih...." Belum habis kalimatnya, saya sudah langsung melihat beliau sedang mengeluarkan tas dari
bagasi mobilnya, spontan saya melambai dan menutup telepon. Oh.. he's a good looking man, looks a bit older than me, and have that smart looks too :) OK, hilang sudah bayangan tentang profil "pedagang yang lain" dibenak saya.

Berjabat tangan dan sedikit berbasa-basi sebentar, kemudian beliau menyodorkan tas NB nya kearah saya. Tas yang rapih dan bersih. Segera saya buka dan bersyukur, wha.. Kondisinya sangat mulus, mulus sekali untuk ukuran barang yang sudah dipakai lebih dari 6 tahun (?). Senyum lega saya tampaknya ditangkap oleh beliau, singkat beliau menceritakan bagaimana beliau merawat barang itu, dan saya bisa menangkap sifat rapi dan resiknya. Booting berjalan lancar dan Windows XP berhasil di load dengan sempurna. Jujur, saat NB itu saya pegang saya sudah tidak peduli tentang yang lain, saya hanya ingin segera mentransfer uang pembayaran dan puas2 mencobanya dirumah.

Dengan cepat Windows saya tutup dan matikan power. "OK Pak, sya langsung bayar barang ini", begitu ucap saya dengan senyum lebar disambut senyum hangat beliau.

Bergegas saya menuju mesin ATM, dan kecewa begitu mengetahui ATM tersebut tidak bisa dipergunakan. Darn, how can I be so stupid not to try it the first time I got here?! Aduhh..Butuh 30 detik untuk memikirkan skenario darurat pembayaran. "OK, saya akan mencari taksi untuk menuju ATM B**/Ma***** terdekat, mudah-mudahan beliau bersedia menunggu", begitu pikir saya.

"Maaf Pak, ternyata mesin ATMnya rusak, Saya akan jalan sebentar ke ATM B** terdekat, bagaimana?"
"Aa.. Begini saja Pak, barang ini Bapak bawa saja dulu, nanti selesai Bapak transfer Bapak hubungi saya saja untuk konfirmasi."
Deggh.. Saya terkejut dengan jawabannya. Cepat otak saya berputar, saya bawa NB ini, lalu saya transfer dan konfirmasi. That's it?! Hari gini...? Di Jakarta? Tajam saya memandang rekan saya itu, hmm.. Since he got here I got a feeling that I can trust this guy. Bulat kesimpulan saya: I can trust this
man. Tapi bagaimana beliau juga bisa langsung mempercayai saya yang baru kali itu ditemuinya? Apakah rasa percaya itu bisa menular sehingga beliau pun ikhlas melepaskan barangnya terlebih dahulu sebelum dibayar? O o,.. Ini bisa berarti kehormatan sekaligus beban buat saya yang "dipasrahi" barang
berharga seperti ini.

"Hmm OK deh, boleh Pak, kalau gitu saya minta nomer rekening Bapak di Bank B** saja kalau ada karena lebih mudah bagi saya mencari ATM B**".
"OK, ini nomer rekening istri saya", kemudian beliau memberikan 2 nomer rekening, 1 rekening B** atas nama istrinya dan 1 rekening Mandiri atas namanya sendiri sebagai rekening alternatif. "Saya percaya dengan Bapak, lagian sesama brotherhood di Gadtorade..." beliau menutup kalimatnya dengan
senyum yang saya yakin tulus.

"OK, Bapak percaya nih ya..?" Sambil tersenyum sebenarnya saya sedang berusaha meyakinkan diri saya sendiri dengan pertanyaan itu.
"Percaya.."

Saya berdiri dan menjabat erat tangannya, lalu berjalan menuju taksi di depan lobby Rumah Sakit. "Citraland Pak", cepat saya berujar pada pengemudinya saat dia menyapa dengan senyum dan menanyakan tujuan. Suasana hening , lalu lintas tidak sepadat biasanya.

Otak saya kembali berputar. Kepercayaan. Mahal benar harganya akhir-akhir ini. Kesulitan ekonomi, kerasnya hidup, tidak pastinya hukum, dst (this could be a darn long list),
jarang kita bisa mempercayai seseorang yang tidak kita kenal dengan begitu mudahnya. Sebaliknya mudah sekali kita kehilangan kepercayaan, ibarat kata pepatah: Sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya. Lalu pikiran saya melayang ke kejadian-kejadian "pahit" yang pernah terjadi dalam
kehidupan saya. Bersyukur hingga sekarang saya masih dipertemukan dengan lingkungan yang "sehat", orang-orang yang berpikir positif dan saling memperbaiki satu sama lainnya sehingga "pahit" dan "manis" nya hidup jadi berimbang dan tidak "merusak" mentalitas dan sikap saya dalam memandang dunia dan seisinya. Alhamdulillah, batin saya sembari berhayal bilakah
saatnya tiba seluruh dunia menjadikan saling percaya sebagai budayanya..

Cepat sekali perjalanan kali itu, tak sadar taksi telah tiba di lobby mal. Segera saya bayar ongkos plus sedikit tip untuk sopir yang ramah itu. Bergegas saya hampiri mesin ATM, mengeluarkan catatan nomer rekening Pak Ind** dan menekan tombol-tombol sesuai dengan harga yang telah kami sepakati. Kembali saya menghubungi Pak Ind** dan mengkonfirmasikan transfer yang baru saja saya lakukan. Lega rasanya melepas "beban" kepercayaan yang tadi serasa ditimpakan ke pundak saya. Dengan langkah ringan dan rasa puas saya beranjak menuju kedai kopi dan memesan segelas cappucino latte,...
srrruputt... ahhh... nikmat nian kopi pagi ini terasa! :)

Sincerely,

[fadjar]

Jakarta-290106
Based on recent true story, Thanks P' Ind** (You Know Who You Are hehe), sekarang saya bisa nulis-nulis dan sedikit 'kerja-kerja' dirumah dengan santai :)